100%
Daerah Tertinggal
Jakarta (27/4) – Diskusi dengan CEO Berbangsa Foundation (Vitria Ariani) bersama tim Biro Perencanaan dan Kerja Sama Kemendesa PDT (Yoga Sidharta), membahas peluang pendanaan melalui skema International Fund for Cultural Diversity (IFCD) dalam kerangka Konvensi UNESCO 2005 yang berfokus pada perlindungan dan promosi keberagaman ekspresi budaya. Diskusi mencakup pemahaman mekanisme pendanaan, persyaratan pengajuan, serta pengembangan konsep proposal yang akan diajukan oleh tim.
IFCD menyediakan pendanaan maksimal sebesar USD 100.000 untuk proyek berdurasi 12–24 bulan, dengan batas akhir pengajuan pada 6 Mei 2026 pukul 00.00 waktu Paris. Proposal yang diajukan harus berorientasi pada penguatan kebijakan kebudayaan, pengembangan industri budaya, serta dampak berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Tim menginisiasi proposal bertajuk “Berbangsa Creative Ecosystem Initiative (BCEI)” yang berfokus pada penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Program ini menargetkan 40 pengrajin (10 per kabupaten) dengan pendekatan pengembangan tekstil berbasis pewarna alami sebagai pintu masuk intervensi.
Ruang lingkup program meliputi peningkatan kapasitas SDM, penguatan kelembagaan dan kebijakan, pengembangan akses pasar, serta pemanfaatan platform digital. Selain itu, proposal juga mengangkat isu strategis berupa keberlanjutan lingkungan dan menurunnya minat generasi muda terhadap sektor budaya. Oleh karena itu, pendekatan yang diusung tidak hanya berfokus pada pelestarian tradisi, tetapi juga pada inovasi produk tenun agar lebih relevan dengan pasar saat ini, seperti pengembangan menjadi tas, sarung bantal, dan aksesori yang lebih modern dan diminati anak muda.
Selain itu, dibahas mekanisme seleksi melalui Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) dengan kuota terbatas, sehingga diperlukan proposal yang kuat, terstruktur, dan kompetitif.
Tindak lanjut mencakup penajaman proposal oleh Berbangsa Foundation termasuk memastikan kesesuaian dengan panduan IFCD, penyempurnaan ruang lingkup program, serta identifikasi kebutuhan dokumen pendukung dan potensi dukungan kementerian. Secara keseluruhan, proposal ini diharapkan mampu menjawab tantangan keberlanjutan budaya sekaligus mendorong transformasi ekonomi kreatif berbasis lokal yang relevan dengan generasi muda dan pasar modern.