100%
Berita Umum
Jakarta, 1 Juli 2026 – Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menutup rangkaian Senior Level Training: Leveraging Governance and Cross Institutional Coordination for Agrifood Systems Transformation in Indonesia dengan penegasan bahwa transformasi sistem pangan memerlukan tata kelola yang kuat, kolaborasi lintas sektor, serta pengambilan kebijakan berbasis data.
Pada sesi terakhir, Aang Sutrisna, Senior Policy Advisor GAIN Indonesia, menekankan pentingnya integrasi data melalui Dashboard Sistem Pangan Indonesia (DSPI) sebagai instrumen pendukung perencanaan dan pengambilan keputusan yang lebih tepat sasaran dalam pembangunan sistem pangan, khususnya di tingkat desa.
Secara keseluruhan, pelatihan selama tiga hari memperkuat pemahaman peserta bahwa transformasi sistem pangan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mencakup aspek distribusi, akses, konsumsi, gizi, dan keberlanjutan. Keberhasilannya membutuhkan sinergi antarkementerian/lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dengan mengedepankan pendekatan evidence-based policy.
Dalam closing remarks, Assistant FAOR (Programme) FAO Indonesia, Ageng S. Herianto, mengapresiasi komitmen Kemendes PDT sebagai penyelenggara angkatan pertama pelatihan bagi pejabat senior. Ia berharap seluruh peserta menjadi agen perubahan yang mampu mengimplementasikan pendekatan sistem pangan dalam kebijakan dan program pembangunan, sekaligus menegaskan komitmen FAO untuk terus mendukung penguatan kapasitas dan kolaborasi di bidang transformasi sistem pangan.
Menutup kegiatan, M. Ridha Haykal selaku Direktur P2DK menegaskan pentingnya keberlanjutan kerja sama antara Kemendes PDT dan FAO, termasuk melalui pengembangan pilot project sistem ketahanan pangan yang dapat direplikasi di berbagai daerah. Ia juga mendorong keterlibatan seluruh unit Eselon I agar program ketahanan pangan dapat dilaksanakan secara terpadu.
Menurutnya, pembangunan sistem pangan bertujuan memastikan masyarakat terbebas dari kelaparan melalui pemanfaatan potensi pangan lokal di setiap desa. Keberhasilan upaya tersebut akan berdampak pada peningkatan status gizi, kualitas sumber daya manusia, serta terwujudnya generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan produktif. Oleh karena itu, hasil pelatihan diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui kolaborasi yang berkelanjutan serta implementasi nyata di tingkat daerah dan desa.