100%
Berita Umum
Kerjasama Antar Lembaga
Sumba Barat Daya, NTT — 12 Februari 2026 Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menyelenggarakan kegiatan Ekshibisi Loda Weemaringi Pada Weemalala, sebagai bagian dari rangkaian Program Pengabdian Alumni LPDP (PANA–LPDP), yang digelar di Rumah Museum Budaya Sumba, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Kamis (12/2).
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Ir. H. Ahmad Riza Patria, Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Drs. Samsul Widodo, M.A., Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla, S.T., Direktur Penyerasian Rencana dan Program PPDT, Dr. Adi Prasetiya, S.E., M.M., perwakilan kementerian/lembaga, jajaran pemerintah daerah, mitra terkait, alumni LPDP, serta masyarakat desa. Ekshibisi ini menjadi bagian dari upaya percepatan pembangunan daerah tertinggal melalui penguatan kapasitas masyarakat desa, pengembangan ekonomi lokal, serta penguatan kelembagaan desa, khususnya di wilayah dengan keterbatasan akses, infrastruktur, dan sumber daya.
Dalam sambutannya, Wakil Menteri Desa PDT mengapresiasi pelaksanaan Program PANA–LPDP yang dinilai mampu memberikan kontribusi nyata dalam mendampingi desa menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Ia menegaskan bahwa saat ini terdapat tiga persoalan utama desa, yaitu keterbatasan sumber daya manusia, infrastruktur, serta pembiayaan yang belum memadai, sehingga membutuhkan sinergi dari seluruh pihak.
"Ada tiga masalah utama desa, yaitu sumber daya manusia, infrastruktur, dan pembiayaan yang belum memadai. Untuk itu, diperlukan sinergi oleh semua pihak, termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, unsur desa, serta pihak-pihak lainnya. Program PANA–LPDP terbukti membantu dalam mendampingi desa untuk memecahkan berbagai persoalan di desa," ujar Ir. H. Ahmad Riza Patria.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Drs. Samsul Widodo, M.A., menegaskan bahwa Program PANA–LPDP merupakan salah satu instrumen strategis dalam memperkuat intervensi pembangunan di daerah tertinggal, terutama melalui pendekatan pendampingan, pemberdayaan masyarakat, serta penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis kebutuhan riil desa. Keterlibatan alumni LPDP menjadi kekuatan penting dalam mempercepat transformasi sosial dan ekonomi desa, sekaligus memperkuat kolaborasi multipihak dalam menjawab tantangan pembangunan di wilayah tertinggal.
Sementara itu, Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla, S.T., menyampaikan apresiasi atas peran aktif para peserta PANA–LPDP yang telah memperkuat upaya percepatan pembangunan daerah tertinggal di wilayahnya. Menurutnya, kehadiran para alumni LPDP memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan kapasitas masyarakat serta memperkuat kolaborasi di tingkat desa.
"Kami melihat antusiasme masyarakat desa yang sangat tinggi. Terjadi kerja sama yang kuat dalam membangun desa dan mencari solusi atas berbagai permasalahan. Hal ini menjadi gayung bersambut, karena Sumba Barat Daya memiliki potensi besar di sektor pariwisata dan pertanian/perkebunan," ungkap Ratu Ngadu Bonu Wulla.
Bupati juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya untuk melanjutkan dan mengembangkan program-program yang telah dirintis oleh para peserta PANA–LPDP, agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat desa.
Dalam kegiatan ini, masing-masing kelompok peserta PANA–LPDP mempresentasikan capaian program serta usulan kebijakan (policy brief) sebagai bentuk kontribusi strategis terhadap pembangunan daerah tertinggal. Kelompok Desa Maliti Bondo Ate memfokuskan pendampingan pada upaya mengatasi akar masalah sosial yang selama ini menghambat potensi besar sektor pariwisata desa, khususnya konflik sosial antardesa dan antargenerasi, melalui pendekatan pendampingan sosial serta distribusi intervensi dan bantuan yang lebih adil dan merata.
Kelompok Desa Karuni mengembangkan pendekatan kolaboratif dalam mengatasi permasalahan layanan dasar, khususnya akses air bersih, melalui kerja sama multipihak termasuk dengan NGO pemberdayaan masyarakat di bidang air bersih. Selain itu, dilakukan penguatan kapasitas masyarakat melalui kelas pemasaran, literasi dan numerasi, serta penguatan kemampuan bahasa Inggris.
Kelompok Desa Watu Kawula mengembangkan konsep kawasan wisata desa secara komprehensif, melalui penguatan kelembagaan ekonomi lokal desa, termasuk proses legalisasi BUMDes serta aktivasi koperasi desa (Kopdes) sebagai fondasi penguatan ekonomi masyarakat.
Sementara itu, kelompok Desa Pero Konda menginisiasi pembangunan sistem pengelolaan sampah sirkular dan berkelanjutan, sekaligus mengembangkan konsep pariwisata olahraga (sport tourism). Dalam policy brief-nya, kelompok ini juga merekomendasikan agar Sumba Barat Daya lebih terhubung dengan pusat-pusat pariwisata nasional seperti Labuan Bajo, serta didorong untuk memperoleh manfaat dari berbagai ajang olahraga dan pariwisata tingkat nasional maupun internasional.
Ekshibisi ini menampilkan berbagai hasil pendampingan di empat desa lokasi program, meliputi pengembangan desa wisata, penguatan UMKM, peningkatan kapasitas kelembagaan desa, serta pengelolaan potensi lokal berbasis partisipasi masyarakat. Pameran produk UMKM lokal turut menjadi bagian dari kegiatan sebagai wujud penguatan ekonomi desa.
Melalui pendekatan pendampingan, penguatan kapasitas, serta kolaborasi multipihak, Program PANA–LPDP diharapkan dapat menjadi model replikasi percepatan pembangunan daerah tertinggal di berbagai wilayah lain di Indonesia, sekaligus memperkuat peran alumni LPDP dalam pembangunan nasional berbasis desa.